Awas, Tik Tok Bisa Berbahaya Bagi Anak

Aplikasi Tik Tok diciptakan oleh Zhyang Yiming, pria asal Cina yang juga memiliki perusahaan teknologi bernama Byte Dance sejak Maret 2012. Yiming adalah lulusan Software Enggineer dari Universitas Nankai.

            Tik Tok tercipta awalnya hanya untuk seru-seruan. Yiming ingin memfasilitasi orang-orang yang suka berdansa, dengan musik yang simpel dan tambah menyenangkan kalau video tersebut bisa disimpan lalu diunggah ke sosial media.

            Dinegara asalnya, aplikasi ini lebih dikenal dengan nama Douyin, resmi diluncurkan pada September 2016. Sepanjang tahun 2018, ternyata popularitas Tik Tok sungguh luar biasa. Tik Tok merajai App Store dengan total unduhan lebih dari 500 juta kali unduhan, dengan 125 ribu pengguna aktif tiap harinya.

Sebagai pencipta, Yiming mengaku tak pernah memainkan aplikasi buatannyanya itu. Alasannya, karena faktor usia. Tik Tok memang diciptakan untuk target pengguna anak muda.

Tapi belakangan, dia akhirnya
ikut membuat video Tik Tok dengan para karyawannya, untuk kepentingan promosi
perusahaan.

            Indonesia sebagai negara terbesar keenam pengguna internet sedunia, tentu menjadi sasaran target marketing aplikasi ini.

Perjalanan Tik Tok sampai di Indonesia sempat diwarnai aksi pemblokiran oleh Pemerintah melalui Kemenkominfo pada tanggal 3 Juli 2018. Hal ini dilakukan karena Kemenkominfo mendapatkan laporan sebanyak 2.853 laporan negatif tentang aplikasi tersebut.

             Aplikasi yang seharusnya mewadahi bagi kaum muda yang suka musik, tari bebas, dan lip sinc, tapi kenyataannya konten yang dibuat oleh para pengguna hingga melampau batas porno aksi. Setelah melalui pengaturan ulang, dan harus menjalani masa pengawasan, akhirnya Tik Tok Kembali diberikan ijin edar oleh pemerintah.

            Tapi jika kita melihat aplikasi Tik Tok saat ini, rasa-rasanya masih ada saja yang tampilan mengumbar kemolekan tubuh dan pakaian-pakaian minim.

Baca juga  Orang Tua Berpengaruh terhadap Minat Belajar Anak

            Bahkan baru-baru ini kerap muncul kasus pelecehan agama, karena mereka melakukan Tik Tok sambil memperagakan ritual ibadah. Lalu ada juga lagu religi yang liriknya  diganti dengan kata-kata yang tak pantas.

            Bahasan ini yang pernah kami angkat dalam diskusi yang diselenggarakan bersama siswa dan orang tua yang ada di Bintang Mulia Homeschooling. Bintang Mulia Homeschooling ini adalah homeschooling berbasis online, yang siswanya bisa memilih untuk belajar dari rumah tanpa harus datang ke sekolah Kudus.

            Dari penelusuran kami, beberapa siswa-siswi telah memiliki aplikasi Tik Tok di gawai mereka. Mereka mengaku, unduhan aplikasi tersebut digunakan untuk berkreasi melepas rasa bosan saat tak ada aktivitas, dengan bernyanyi lip sync dan gerak lagu.

Diskusi berjalan dengan hangat, siswa tanpa ada rasa tertekan, mereka tidak merasa dijadikan sebagai obyek. Pada kesempatan ini juga menjadi ajang bagi para siswa untuk meyakinkan orang tua masing-masing, bahwa video yang mereka produksi hanyalah sebatas video gerak lagu biasa tanpa melanggar norma kesopanan.

Kepercayaan dan kedekatan orang tua terbukti mampu menjadi tameng agar siswa tidak terjerumus dalam tindak menyimpang. Kejernihan berpikir serta kedewasaan juga berpengaruh sebagai panduan tiap siswa dalam bertindak.

Bagikan juga ke kerabat :
Baca juga :